(23/10/2016) Tidak Berani Menyebut “Muslim”

 

“Aku menyebut diriku Muslim saja aku tidak berani, karena itu merupakan hak prerogatifnya Allah untuk menilai aku ini Muslim atau bukan”.

 

 

Itulah kutipan kalimat dari “Kyai Mbeling” alias Emha Ainun Nadjib, dan entah kenapa tanpa berusaha memahami apa maksud beliau tiba-tiba ada banyak orang sewot lalu bikin ‘status-status gagah’, seolah-olah jadi pembela Muslim yang paling hebat, kemudian beramai-ramai menghakimi Cak Nun.

 

“Budayawan kok ngomongin agama!”

 

“Kalo ga berani nyebut dirinya Muslim, kenapa berani menyebut dirinya manusia??”

 

“Wooi .. kalo ga berani nyebut Muslim keluar aja dari agama Islam!!”

 

Wih .. galaknya ngalah-ngalahi ibu-ibu mertua di sinetron Indosiar aja nih 😀

 

Apa emang budayawan itu ga boleh ngomongin agama? Jadi cuma kyai atau habib yang boleh ngomongin agama? Lha terus situ sendiri budayawan bukan, kyai bukan, tapi kok boleh ngomongin agama?

 

Wah, berarti emang bener kalo Alquran itu suka bohongin dan bodohin orang, buktinya Alquran bilang kalo dirinya adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia (QS 2:185)! So, gimana kalo kita revisi ayat tsb supaya yang boleh ngomongin agama menurut Alquran itu cuma para kyai atau habib?

 

Lalu ada yang protes juga kalo ga berani mengaku Muslim, kenapa berani mengaku sebagai manusia?

 

Gini boss .. “Muslim” dan “Manusia” itu suatu hal yang berbeda. “Manusia” itu sesuatu yang “pasti”. Sementara “Muslim” itu sesuatu yang “abstrak, imateri, intangible” (waduh ini kosakata Arab yang mana lagi nih??).

 

Kenapa “manusia” dikatakan sebagai sesuatu yang “pasti”? Ya jelas selama ada suatu makhluk hidup yang bisa berdiri tegak dengan dua kaki dan punya 23 pasang kromosom sudah pasti makhluk tsb adalah MANUSIA. Sebenarnya tanpa harus paham morfologi macam itu, bahkan anak kecil atau orang tidak berpendidikan pun bisa tahu pasti kapan sesuatu itu bisa disebut “manusia” atau bukan.

 

Lha kalo “Muslim”? Bagaimana anda mendeskripsikan ciri-cirinya?

 

“Yaa tinggal buka dompetnya dan lihat di KTP donk, di situ ditulis Islam apa bukan!!”

 

Gundulmu semplah kuwi!!

 

Nah, di sinilah kita coba bedah apa maksud Cak Nun bilang “saya tidak berani menyebut diriku Muslim”.

 

Ini bukan karena Cak Nun itu penakut. Bukan boss. Di sini barangkali Cak Nun memang sudah paham arti kata “Muslim” menurut Alquran itu sendiri.

 

Lho mosok mau memahami makna “Muslim” aja harus cari di Alquran? Ya di Alquran toh jeng, masak cari di Alfamart … capek dehh.

 

Dari Alquran kita bisa melacak sejak kapan ada manusia diberi gelar “Muslim”. Okay, siapa sih sebenarnya manusia pertama yang digelari “Muslim”?

 

Nabi Muhammad! ….. bukan.

 

Nabi Isa! ….. bukan.

 

Osama bin Laden! …… apalagi yang ini -_-

 

Siapa donk terus?

 

 

QS 22 Al Hajj (Haji)

 

78. Dan berjuanglah kamu pada jalan Allah dengan perjuangan yang sebenarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam jalan hidupmu (DIINI) suatu kesempitan. (Ikutilah) jalan (MILLATA) orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian sebagai orang-orang berserah diri (MUSLIMIINA) dari dahulu …….

 

 

Ibrahim!!!

 

“Ibrahim sohibnya Dimas Kanjeng maksud loh?”

 

Ngawur!! Itu sih “Ibrahim Jilbaban”. Bukan! Ini Ibrahim bapaknya Ismail dan Ishak, leluhurnya Musa, Isa, dan Muhammad. Tau kan?

 

Nah, kalau Alquran memerintahkan kepada Muhammad untuk mengikuti jalan hidup Ibrahim yang disebut sebagai “orang-orang Muslimin” yang artinya “orang-orang yang damai dan berserah diri”, lalu pertanyaannya adalah “BAGAIMANA IBRAHIM MERAIH GELAR SEBAGAI MUSLIM”?

 

Oke, saya tidak akan bahas panjang lebar soal kisah Ibrahim, tapi bisa disimpulkan bahwa perjalanan spiritual Ibrahim dimulai dari proses :

 

1) berpikir,

2) bertanya,

3) mencari bukti,

4) meyakini,

5) berdialektika,

6) berjuang dengan kegigihan dan kesabaran,

7) lalu berkorban harta benda

 

* baca QS 6:74-79, QS 2:260, QS 21:51-69, QS 19:42-46, QS 37:101-110.

 

Semua itu dilakukan oleh Ibrahim dalam pengabdian kepada Allah. Maka Ibrahim menjadi seorang yang “berserah diri (ASLAMA)” terhadap segala ketentuan Allah di Alam Semesta. Maka Ibrahim menjadi seorang dengan keadaan spiritual atau hati yang “damai (SALAM)”.

 

Itulah proses Ibrahim meraih gelar sebagai “Muslim!”

 

Maka ketika Cak Nun bilang “tidak berani menyebut dirinya Muslim” itu menunjukkan sebuah kepahaman yang mendalam tentang Islam. Beliau tau pasti bahwa menjadi seorang “Muslim” itu tidak segampang lahir mrocot dari kedua orangtua yang ber-KTP Islam dan nantinya tumbuh berkembang di tengah-tengah ‘tradisi Muslim’, ritual ala ‘Muslim’, dan busana ala ‘Muslim’.

 

Menjadi seorang “Muslim” adalah mengikuti jejak Ibrahim!! Dan itu sama sekali ga gampang boss!!

 

Cak Nun dengan kedalaman ilmunya tidak berani menyebut dirinya “Muslim” adalah sebuah bentuk kerendahatian di hadapan Sang Pencipta. Bahwa ia tidak pernah merasa perjuangannya meraih ridha Allah itu sudah selesai hanya dengan mengucap kalimat syahadat. Beliau selalu introspeksi diri, dan terus berjuang untuk menjadi seorang “Muslim” menurut standar Alquran, bukan standar embahmu!

 

Insya Allah sikap selalu introspeksi diri ini adalah salah satu ciri-ciri orang BERTAKWA menurut QS 3:133-135.

 

Lalu ente gimana gan? Udah pe-de merasa jadi “Muslim” sehingga merasa berhak marah-marah ketika ada orang lain (karena ketakwaannya) yang tidak berani menyebut dirinya “Muslim”?

 

Karena merasa udah sukses jadi “Muslim” bawaan procot trus ntar dijamin masuk surga gitu?

 

Gimana coba kalo ntar di gerbang surga Malaikat Ridwan dengan muka bete bilang ke ente gini :

 

“hellow …? Situ siapa ya? Salah kamar cyiiint …”

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *