(15/11/2017) Jilbab Rina Nose

 

Miris juga ya ngebaca berbagai hujatan netizen terhadap keputusan Rina Nose yang tidak lagi mengenakan hijab (baca : jilbab >> kata “hijab” di Alquran tidak pernah berhubungan sedikit pun dengan “penutup kepala”).

 

Sebenarnya sikap menghakimi ini bukan hal yang baru, dan sudah terjadi berulang-ulang (sampai pada tahap sangat memuakkan bagi saya). Masih mendingan kalau cuma soal hijab, biasanya lebih parah lagi kalau sudah urusan “pindah agama”. Gegara hujatan ini, yang bersangkutan kabarnya sekarang stres dan sampai menangis. Padahal kalau kita mau sejenak mendengarkan alasannya tanpa prasangka, keputusan “si pesek” ini adalah merupakan salah satu proses dalam pencarian hakikat hidup, yang seharusnya dihormati oleh siapa pun.

 

Memang semakin banyak wanita Indonesia yang kini memutuskan untuk berhijab, tapi ternyata tidak sedikit juga yang bersikap sebaliknya. Dari kalangan artis pun sudah ada beberapa yang memutuskan untuk melepas hijabnya, dengan berbagai alasannya tersendiri.

 

Saya juga punya beberapa teman wanita yang kini sudah melepas hijabnya. Menariknya, teman-teman saya itu melakukannya justru setelah melakukan pengkajian mendalam terhadap Alquran. Mereka mengatakan itu semua sebagai “bentuk perlawanan” terhadap arogansi kelompok-kelompok yang sering mengklaim kebenaran tunggal menurut sudut pandanganya. Tetapi apakah dengan melepas hijabnya mereka menjadi “tidak religius” lagi? Well, menurut pandangan saya mereka tetap menjaga identitas kemuslimannya dengan sungguh-sungguh, dan yang paling penting adalah sikap mereka semakin dekat dengan jargon “rahmatan lil alamin”. Yang ini artinya, dalam kasus teman-teman saya ini, melepas hijab tidak berarti identik dengan kembali kepada kemaksiatan.

 

Saya percaya pada Hukum Newton : “Aksi dan Reaksi”.

 

Bahwa besarnya “reaksi” yang muncul sebanding dengan besarnya “aksi” yang ada sebelumnya. Contoh sederhana, jika anda membenamkan benda datar ke dalam bak mandi, semakin dalam anda membenamkan benda tsb, maka akan semakin kuat daya tolaknya sehingga melempar benda datar itu kembali ke permukaan.

 

Soal “hijabisasi” ini dalam beberapa tahun terakhir memang ada kampanye yang begitu masif dan sistemik di Indonesia. Mulai dari ajakan secara halus sampai pada pewajiban lewat aturan-aturan yang ada di instansi maupun di sekolah. Motifnya pun beraneka ragam, dari yang benar-benar murni keyakinan agama sampai ke motif bisnis hijab itu sendiri. Kalau sekedar kampanye barangkali tidak terlalu masalah, tapi menjadi bermasalah apabila memunculkan sikap-sikap merasa paling suci dan paling Islami dengan menyalah-nyalahkan bahkan menghujat orang lain.

 

Baca : “Kampanye Hijab” https://www.ngopi.in/28-4-2015-kampanye-hijab/

 

“Aksi” ini pun memantik “Reaksi”. “Kampanye Hijab” yang begitu masif ini dengan sikap-sikap menghakimi ini pada akhirnya menimbulkan kemuakan tersendiri bagi sebagian orang, dan akhirnya mereka pun “melawan”. Ada yang sekedar melepas hijabnya dengan tetap menjadi Muslimah, tapi tidak sedikit juga yang malah membuang religiusitas pada dirinya dengan sikap “menjadi orang baik tanpa harus beragama”. Anda mungkin kaget membaca tulisan ini, tapi demikianlah hasil pengamatan saya terhadap beberapa kawan saya 1-2 tahun terakhir ini (karena saya punya banyak teman dari berbagai macam kalangan, dan mungkin karena saya dikenal sebagai orang yang “berpikiran terbuka”, maka mereka tidak sungkan untuk berbagi pandangan dengan saya).

 

Maka kalau diperkenankan saya memberikan saran bagi anda yang masih meyakini bahwa “hijab adalah kewajiban dari Allah”. Silakan saja istiqomah dengan keyakinan tsb, dan keyakinan anda haruslah dihormati. Namun barangkali pendekatan kampanyenya saja yang sedikit diubah. Dari yang dulunya “kampanye hijabisasi” secara terbuka dan bahkan kadang intimidatif, menjadi “kampanye hikmah”. Artinya begini, anda yang berhijab bisa mulai menunjukkan peningkatan kualitas pribadi dengan tampil simpatik, cerdas, ramah, rendah hati, empati, dsb yang berada dalam bingkai “rahmatan lil alamin”, tanpa harus mengunggul-unggulkan hijab anda terhadap mereka yang belum berhijab.

 

Biarkanlah masyarakat menilai bahwa dengan berhijab akan membawa dampak spiritualitas yang luar biasa dalam diri anda, tanpa harus merendahkan yang lain. Dan percayalah, semakin arogan dan semakin intimidatif anda dalam mengkampanyekan hijab, maka akan semakin besar reaksi negatif yang muncul.

 

Jadikanlah hijab atau apa pun yang kita yakini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk saling menghakimi.

 

Karena kita diperjalankan Allah dengan jalan hidupnya masing-masing, maka jangan pernah merasa paling suci.

 

 

QS 53 An Najm (Bintang)

 

32. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *